Kenapa Anak Kadang-kadang Lupa Membuat PR

Kenapa Anak Kadang-kadang Lupa Membuat PR

oleh : Chandra Dewi

 

Pada masa-masa awal pendidikan sekolah dasarnya, anak kita kadang-kadang masih lupa dengan PR yang diberikan oleh gurunya. Hal ini merupakan hal yang wajar, karena PR merupakan suatu rutinitas yang baru untuknya. Tapi, apabila sudah satu tahun berlalu dan dia masih saja suka melupakan PRnya, maka kita seharusnya mulai bertanya-tanya. Apakah dia tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan PRnya? Sulitkah baginya untuk mengingat perintah dari gurunya? Apakah dia ingin menyalin PR dari temannya? Apakah dia menghindari kewajibannya? Apakah anak kita sudah memiliki jadwal yang tetap untuk membuat PR? Apakah dia membuat PRnya sendiri atau si mbak? (sehingga pada saat si mbak pulang kampung, PRnya terbengkalai) Atau… sudahkah ibunya membantunya mengingat tentang kewajibannya mengerjakan PR? Apakah ibunya juga memahami makna diberikannya PR? Apakah PRnya terlalu banyak? Apakah PRnya terlalu sulit

Pertama, kita sebagai orangtua harus memahami apa manfaat pemberian PR pada anak usia sekolah dasar. Beberapa orangtua masih memandang bahwa PR tidak perlu diberikan untuk anak sekolah dasar karena masa-masa itu adalah masanya untuk bermain tanpa beban. Kelompok orangtua yang lain, malah menuntut diberikannya PR untuk anaknya. Melihat dua kubu ini maka sebaiknya orangtua pun memiliki persepsi yang sama dengan sekolah yang dipilihnya. Salah satu pertimbangan orangtua memilih sekolah adalah mengenai ada atau tidaknya PR, selain pertimbangan-pertimbangan penting lain tentunya.

Untuk orangtua yang memilih sekolah yang memberikan PR untuk anaknya, maka dia perlu memahami makna pemberian PR tersebut. Bagi sekolah, PR adalah untuk mendidik anak belajar memiliki tanggung jawab. PR merupakan instrumen guru untuk pembelajaran. PR yang diberikan bagi siswa SD sebenarnya bukan dirancang untuk menaikkan skor atau pencapaian tes mereka, tetapi lebih untuk mengembangkan kebiasaan belajar, mendorong kebiasaan positif dalam belajar, serta sarana komunikasi antara orangtua dan guru di sekolah. Jika kita sudah memahami alasan diberikannya PR pada anak, maka akan muncul tugas orangtua dalam hal PR ini.

Tugas itu adalah:

  • Turut menemaninya membuat PR, karena PR merupakan sarana komunikasi antara orangtua dan guru.
  • Membuat jadwal bersama. Untuk beberapa anak, PR bukan menjadi hal yang perlu diingatkan berulang-ulang. Sementara untuk anak yang lain, PR adalah sesuatu yang mudah dilupakan.
  • Selain PR dari sekolah, orangtua pun sebaiknya memberikan kewajiban lain di rumah. Kewajiban itu dapat berupa membereskan mainan setiap kali selesai bermain, mengembalikan buku ke rak buku setiap selesai membaca, memberi makan ikan di akuarium, dan kewajiban-kewajiban kecil lainnya.
  • Orangtua mengajarkan anak untuk selalu meminta ijin setiap kali akan melakukan sesuatu di rumah. Misalnya: “Ma, sekarang saya boleh nonton TV?”, “Ma, sekarang saya boleh bermain layang-layang di luar?”.  Dengan ini, maka akan mudah bagi Anda untuk mengontrol apakah kewajibannya sudah dikerjakan atau belum. Atau, anak Anda boleh melakukan apapun, asal sesuai dengan jadwalnya  tanpa harus meminta izin dari Anda.
  • Orangtua harus memahami tipe anak, sehingga pertengkaran-pertengkaran kecil dapat dihindarkan dan anak tetap merasa nyaman di rumah. Orangtua wajib mengenali kecerdasan majemuk anak (dapat dilihat pada artikel tentangkecerdasan majemuk, red) sehingga harapan-harapan kita terhadap anak akan sesuai dengan tipe kecerdasan anak. Contoh: Jika anak anda termasuk anak dengan dominan kecerdasan kinestetik, maka penempatan jadwal membuat PR harus disesuaikan dengan habisnya energinya untuk bergerak. Berkeringat dulu, baru bikin PR. Anak yang memiliki kecerdasan musikal, membutuhkan musik pada saat mengerjakan PR. Untuk orangtua yang memiliki kebiasaan belajar dalam kesunyian, sudah tentu tidak akan membiarkan anak Anda belajar ditemani musik. Pertengkaran dapat muncul jika orangtua tidak mengenal tipe kecerdasan anak.
  • Orangtua juga memiliki hak juga untuk mendiskusikan beban PR kepada pihak sekolah.

Nah, sekarang kita sudah paham tentang PR dan masalah anak kita dalam menghadapi PR bukan? PR merupakan hubungan segitiga antara anak – orangtua – sekolah. Ketiga pihak dapat membangun kerjasama yang baik dalam menciptakan komunikasi melalui PR.  PR dapat menjadi sarana pembelajaran seperti:

  • Memahami cara belajar anak
  • Memahami metode baru yang diajarkan di sekolah
  • Memahami kemampuan anak untuk membagi waktu
  • Memahami ekspektasi sekolah terhadap anakSelamat bekerja sama!

*Penulis adalah ibu dari 3 anak, that has been thru a lot..

Please.. I Need Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s