Rahasia Membaca Dengan Mata Tertutup

Aktivasi Otak Tengah

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login

Rabu, 8 September 2010 – Kemarin waktu penulis berjalan di depan kampus pasca sarjana IPB, penulis terhenti sejenak melihat sebuah spanduk besar berjudul aktivasi otak tengah.


Sebuah program pelatihan yang cukup digemari sekarang. Lalu penulis teringat apa yang dipaparkan oleh pakar psikologi pendidikan dari Universitas Texas di Dallas, John W Santrock PhD. Beliau dalam bukunya, Psikologi Pendidikan halaman 47 mengatakan kalau : “Sayangnya, pernyataan tentang manfaat pengetahuan tentang otak untuk pendidikan anak-anak sangatlah spekulatif dan jauh dari apa yang diketahui oleh ilmuan syaraf tentang otak.” Pernyataan ini didukung oleh referensi dari lima laporan penelitian loh (Blakemore dan Frith, 2005; Bransford et al, 2005; Breuer, 1999; Goswami, 2005; Schumacher, 2007). Ambil contoh senam otak yang katanya ilmiah, ia ternyata hanyalah sebuah strategi dagang tanpa dukungan sains sama sekali. Jangan-jangan Aktivasi otak tengah begitu juga. Lagipula Aktivasi otak tengah ternyata hanya dipasarkan di wilayah Malaysia, Indonesia dan Sri Lanka. Kalau ia begitu hebat, kenapa tidak di negara maju?

Untuk itu penulis menyempatkan diri untuk menelusuri beberapa jurnal ilmiah terkemuka tentang otak untuk melihat apa benar klaim tentang aktivasi otak tengah ini. Let’s check it out!

Apakah ini hasil aktivasi otak tengah?

Oh btw, otak tengah disebut juga mesencephalon. Fungsinya untuk mengendalikan respon penglihatan, gerakan mata, dilasi pupil, gerakan tubuh dan pendengaran (Bailey, 2010). Jadi cukup masuk akal kalau saat ia direkayasa entah bagaimana, kemampuan melihat, bergerak dan mendengar menjadi berbeda. Dan bila daerah ini menjadi sangat aktif, uh, hasilnya justru sangat buruk. Bila otak tengah terlalu aktif, ia berasosiasi dengan : sakit kronis, infeksi saluran kencing, insomnia, kekakuan, sensitivitas cahaya, migrain, detak jantung tinggi, wasir dan diare (Carrick, 2010). Sebuah metode aktivasi yang entah bagaimana justru bukannya menghasilkan penyakit tapi malah mempertajam fungsi mesencephalon tentunya sangat menarik dan wajar bila memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Pemeriksaan di 90.818 laporan hasil penelitian dari tahun 1995 tidak membuahkan hasil. Baik itu sedikit saja petunjuk kalau otak tengah manusia memiliki kemampuan unik melebihi bagian otak lainnya.

Lalu bisa saja sang penemu aktivasi otak tengah tidak mau membagikan rahasianya. Rahasia Google misalnya, tidak akan kamu temukan artikel ilmiah. Ia tersimpan rapat sebagai rahasia perusahaan. Itu hasil penelitian ilmiah dan terbukti, tapi tidak dipublikasikan. Sama dengan produk teknologi Windows dan sebagainya. Mungkin saja Aktivasi otak tengah kan?

Ok. So buktinya apa? Sebagaimana fakta ilmiah lainnya, harus ada bukti dari sebuah pernyataan. Dalam proses aktivasi otak tengah, buktinya adalah demonstrasi membaca dengan mata ditutup. Di mana saja, Sri Lanka, Malaysia, Indonesia. Dan satu lagi, pesertanya anak kecil. Ada yang janggal?

Pertama bayangkan kamu anak kecil. Anak kecil yang percaya begitu saja ucapan otoritas, seperti guru misalnya. Anak kecil yang tidak terdidik untuk berpikir kritis. Anak kecil yang mudah disugesti. Anda lalu diberi sehelai kain, anda diperlakukan dengan teknik khusus kemudian anda dikatakan mampu membaca menembus kain tersebut. Mungkinkah kamu akan tahu kalau kamu sebenarnya memakai kain biasa?

Otak tengah (Mesencephalon)

Tambahan lagi, kalau kamu bilang kamu bisa membaca tembus pandang, kamu akan dipandang anak yang normal dibandingkan anak-anak lainnya, kamu akan dipuji orang tuamu dan satu lagi, kamu punya pelarian. Inilah alasan psikologis kenapa anak-anak sekolah senang menyontek. Mereka tidak ingin dibilang bodoh, atau kritis. Mereka mencari jalan untuk menyontek, mengakali. Dengan menyontek, harga dirinya tidak terluka. Ia tidak divonis bodoh karena tidak ada bukti ia bodoh. Ia bisa menyalahkan pendidikan otak tengahnya yang tidak teratur, atau mungkin guru lesnya atau orang tuanya. Ada banyak yang bisa disalahkan ketimbang mengakui diri bodoh.

Mencontek beda dengan bodoh. Bodoh artinya tidak memahami apa yang diajarkan walau sudah dijelaskan sedemikian jelas. Menyontek adalah proses meniru, sebuah proses aktif yang memerlukan sebuah keahlian. Dan pikiran anak sungguh kreatif. Anda tentunya terkesan betapa kreatifnya mereka, baik dalam hal positif maupun negatif, seperti berbohong. Adik saya yang balita bisa bercerita panjang lebar tentang bertemu buaya di sungai padahal faktanya ia tidak disitu.

Jadi bagaimana saat anda bisa melihat menembus kain? Well, anda mengira anda memang mempunyai kemampuan membaca menembus kain. Baik secara sugestif maupun dari psikologi anak sendiri. What you expect from a normal child?

Membaca dengan mata ditutup kain adalah hal yang klasik. Silakan kunjungi situs ini :http://www.bronnikovmethod.com/ Situs Rusia ini merupakan situs yang menawarkan Bukti kemampuan yang disebut Bronnikov Method. Dasarnya berbeda sama sekali dengan cerita otak tengah kita, tapi, hell, kemiripan buktinya itu loh. Situs ini sudah ditawari oleh James Randi Foundation sebesar 1 juta Dollar untuk membuktikan kalau orang yang ditutup matanya akan bisa membaca. Apa balasan mereka? Membaca dengan mata tertutup bukanlah tujuan dari metode kami, ia hanya salah satu konsekuensi. Dan setelah itu ia menolak tawaran 1 juta dollar tersebut, 10 Miliar rupiah bro! Tidak percaya? Baca disini : More Blindfold Acts

Yah. Katanya saat lahir kita punya bagian otak yang seimbang, lalu saat dewasa otak kita terspesialisasi jadi kiri dan kanan. Apa kata pakar psikologi pendidikan kita? “Orang-orang dan media yang tidak profesional biasanya melebih-lebihkan spesialisasi bagian dengan menyatakan bahwa otak kiri lebih logis dan otak kanan lebih kreatif. Namun, fungsi yang paling kompleks – seperti pemikiran kreatif dan logis – pada orang-orang normal melibatkan komunikasi antara kedua sisi otak” (Santrock, 46; Smith dan Bulman-Fleming, 2005). So apa manfaatnya mengaktifkan sebuah jembatan penghubung otak jika jembatan itu dari lahir sudah aktif dan terus menerus setiap hari kita gunakan?

Ada seorang ibu yang mengeluh tentang anaknya yang mimisan saat matanya ditutup. Dan bukannyamengendarai sepeda dengan mata tertutup seharusnya dilarang karena berbahaya?

Akibat otak tengah yang terlalu aktif (Carrick, 2010)

James Randi sudah rela membayar 1 juta dollar untuk siapapun yang bisa membaca dengan mata tertutup kain. Ia sudah menguji 100 orang di penjuru dunia, dari China, Meksiko, Rusia hingga Jepang. Kenapa orang Indonesia tidak mencoba? Bukannya itu keren. Kalau anda tertarik silakan apply disini

Yayasan James Randi

Oh ya, tidak boleh pake trik ya. Murni kekuatan otak. Selama ini orang yang diuji ternyata menggunakan trik mengintip. Sebuah kain yang sedikit lebih tebal berada di bagian hidung, sehingga bagian bawah kain di bawah mata sedikit terangkat. Mata manusia cukup hebat, kamu bisa mengintip dari lubang yang kecil sekali. Apalagi untuk sekedar tulisan-tulisan linier di kertas atau roda sepeda disertai aba-aba. Inilah profil mereka yang katanya bisa membaca dengan mata ditutup kain:

Pengujian dengan Natalia

Kisah Ranjana Agarwal dari India

Berita lain dari Randi

oh iya. Bahkan Indonesia sudah punya sejarah orang buta yang bisa membaca dengan mata tertutup kain. Tahun 1999, Neil Langdon Inglis melaporkan ia menyaksikan sebuah pagelaran tari di Indonesia yang menampilkan dua orang buta. Dan mereka bukan hanya buta, mata mereka ditutup dengan kain!

Seorang skeptik yang kritis dari Malaysia sudah membahasnya pula disini

http://althras.wordpress.com/2010/02/22/blinfolded-reading/

Referensi

  1. Bailey, R. 2010. Mesencephalon. http://biology.about.com/od/anatomy/p/mesencephalon.htm
  2. Blakemore, S-J, Frith, U. The Learning Brain: Lessons for Education: A précis. Developmental Science 8(6), 459-471 (2005)?
  3. Bransford, J.D., & Darling-Hammond, L. (2005). Preparing teachers for a changing world: What teachers should learn and be able to do. San Francisco, CA: Jossey-Bass.
  4. Bruer, J.T. In Search of…Brain-Based Education. Phi Delta Kappan, v80 n9 p648-54 May 1999
  5. Carrick, F. 2010.  Brain Based Therapy.
  6. Goswami, U. (2005), The Brain in the Classroom? The State of the Art, Developmen- tal Science 8, 467–469.
  7. Inglis, N. L. 1999. Teaching the Blind to Read (Without Braille!) Skeptical Eye, Vol 12 No 1, March 2000, p. 8
  8. Nayak, N. 2010. Exposing The “Miracle” Of Blindfolded Sight- The Story of Ranjana Agarwal.
  9. Randi, J. 1995. An Encyclopedia of Claims, Frauds, and Hoaxes of the Occult and Supernatural. Dermo optical perception.
  10. Santrock, J.W. 2009. Psikologi Pendidikan. Salemba Humanika
  11. Schumacher, R. 2007. The Brain is Not Enough. Analyze and Kritik 29http://www.ifvll.ethz.ch/people/ralphs/The_Brain_Is_Not_Enough.pdf
  12. Smith, S.D. Bulman-Fleming, M.B. 2005. An examination of the right hemisphere hypothesis of the lateralization of emotionBrain and  Cognition, 57, 210-213
  13. Thee, M. 2010. Magic in Mind or A Mirage? The Jakarta Globe.
  14. Sumber:http://www.faktailmiah.com/2010/09/08/aktivasi-otak-tengah.html

Please.. I Need Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s